PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN PADA MASA DAULAH ‘ABBASIYAH

 

Ujang Ruhyat S

  1. A.       Pendahuluan

Meski terdapat sejumlah perbedaan, para ahli sejarah banyak yang membagi periodisasi sejarah peradaban Dinasti[1]  Bani ‘Abbas yang berumur sekitar lima ratus tahun (750-1258 M / 132-656 H) ke dalam dua periode utama.[2] Periode pertama, berlangsung antara tahun 750-945M/132-334H, dimana pada masa itu Daulah ‘Abbasiyah memiliki otoritas politik yang sangat kuat dan kemudian mampu melahirkan sebuah kemajuan peradaban yang disebut-sebut sebagai ”Era Keemasan” (the Golden Age).

Sedangkan periode kedua (945-1258M) adalah rentang waktu dimana Daulah ‘Abbasiyah secara faktual mengalami kemunduran politik dan para khalifah kehilangan otoritas kekuasaanya terhadap sejumlah wilayah dibarengi dengan lahirnya negara-negara kecil (duwaylāt) yang memerdekakan diri. Karakteristik lain dari periode ini adalah masih terlihatnya sisa-sisa pengaruh kemajuan peradaban Islam era keemasan yang terwujud dalam perkembangan berbagai disiplin keilmuan (`ulūm), pembangunan (`umrān), tercapainya kesejahteraan, hingga pada level berikutnya yang bersifat negatif yakni menggejalanya gaya hidup bermewahan (taraf). Periode Daulah ‘Abbasiyah ini berakhir pada tahun 1258 M ketika Baghdad jatuh ke tangan bangsa Mongol di bawah komando Hulagu Khan.

Pembagian sejarah ‘Abbasiyah sebagaimana model di atas, meski diakui oleh beberapa kalangan -seperti Eric Hanne sendiri- kurang tepat, ternyata mampu mempengaruhi nature atau gaya studi modern terhadap Daulah ‘Abbasiyah, dimana mayoritas fokus kajiannya lebih banyak dititikberatkan pada periode pertama.

Makalah ini, dengan mengensampingkan periodisasi seperti diatas, secara spesifik akan membahas dan memilah era kemajuan ilmu pengetahuan beserta faktor-faktor yang melatarbelakangi berkembangnya ilmu pengetahuan sedemikian pesatnya pada masa Daulah ‘Abbasiyah.

 

  1. B.       Latar Belakang Kemajuan Ilmu Pengetahuan

Di masa pemerintahan Bani Abbas ini muncul perhatian kepada ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani bahkan mencapai puncak keemasannya, teutama pada masa khalifah Harun al-Rasyid dan Al-Ma’mun. Di zaman Harun al-Rasyid (785-809 M) banyak sekali kontribusi besar yang telah disumbangkan oleh khalifah dalam dunia ilmu pengetahuan dan filsafat. Hal itu tidak jauh berbeda dengan putranya Al-Ma’mun yang sangat mencintai ilmu pengetahuan.[3]

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi berkembangnya ilmu pengetahuan pada masa dinasti Bani Abbas, diantaranya adalah sebagai berikut:[4] Pertama, Adanya gerakan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat yang didatangkan dari Bizantium dan kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Kegiatan penerjemahan buku-buku itu berjalan kira-kira satu abad. Kedua, banyaknya ilmuwan yang hidup pada masa Dinasti Bani Abbas yang memberikan corak dan sumbangan terhadap dunia ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu. Ketiga, adanya persamaan dalam hal superioritas antara bangsa Arab dan Bangsa non-Arab sehingga banyak menyumbangkan pemikir-pemikir yang handal tanpa memandang kesukuan dan bangsa. Keempat, adanya dukungan khalifah-khalifah yang sangat mencintai terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat yaitu khalifah Harun al-Rasyid dan Al-Ma’mun. Hal ini dapat dimaklumi karena pada dasarnya para pembesar istana Bani Abbas adalah para cendekiawan-cendekiawan Persia yang turut mempengaruhi kehidupan istana. Salah satu yang terbesar dan banyak berpengaruh  pada mulanya adalah keluarga Barmak. Jabatan wazir yang diberikan oleh Al-Mansur kepada Khalid Ibn Barmak yang kemudian secara turun-temurun diwariskan kepada anak dan cucu-cucunya.[5]

Keluarga Barmak adalah sebuah keluarga yang berasal dari Balkh (Bactra), pusat ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani di Persia, yang mempunyai pengaruh dalam memperkembangkan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani di Baghdad. Mereka, di samping menjadi wazir, juga menjadi pendidik dari anak-anak khalifah. Disamping itu, khalifah-khalifah terutama Harun Al-Rasyid mengambil wanita-wanita Persia sebagai Istri dan dari perkawinan ini muncullah khalifah-khalifah yang mempunyai darah Persia, seperti khalifah Al-Ma’mun.[6]

Oleh karena itu, Khalifah Al-Ma’mun adalah salah satu putera Khalifah yang mendapat pendidikan keluarga Barmak yang merupakan cendikiawan Persia. Berkat didikan keluarga Barmak inilah Al-Ma’mun menjelma menjadi sosok khalifah yang sangat mencintai ilmu pengetahuan dan filsafat. Menurut sebuah riwayat dikisahkan bahwa Al-Ma’mun sudah menguasai filsafat Yunani Kuno karya Plato dan Aristoteles, sehingga tidak disangsikan lagi bahwa pada kemudian hari Al-Ma’mun sangat gemar sekali terhadap dunia ilmu pengetahuan dan filsafat. Salah satu kontribusi besar Al-Ma’mun dalam dunia ilmu pengetahuan adalah dengan dibangunnya pusat penerjemahan buku-buku filsafat Yunani kuno, India kuno kedalam bahasa Arab yang dikenal dengan Bait al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan).

 

  1. C.       Kemajuan dalam Bidang Sains dan Teknologi

1)   Kajian dalam Bidang Kedokteran

Babak penerjemahan  segera diikuti oleh babak aktivitas kreatif. Dalam proses pembangunan budaya, orang Arab tidak hanya membaurkan kebijakan kuno Persia dan yunani klasik, tapi juga mengadaptasi keduanya sesuai dengan kebutuhan khusus pola pikir mereka. Dalam bidang kedokteran dan filsafat, mereka tidak menghasilkan karya yang cukup independen seperti dalam bidang kimia, astronomi, matematika, dan geografi. Dalam bidang hukum, teologi, filologi, dan bahasa, sebagai orang Arab dan Muslim, mereka berhasil mengembangkan pemikiran dan penelitian yang orisinal.[7]

Garis pembatas antara karya asli dan terjemahan tidak selamanya tergambar dengan jelas. Banyak penerjemah yang juga memberikan kontribusi baru dalam disiplin pengetahuan mereka geluti, misalnya Yuhanna ibn Masawayh (777-875 M) dan Hunayn ibn Ishaq (809-873 M). Yuhanna ibn Musawayh adalah seorang dokter Kristen dan sebagai murid Jibril ibn Bakhtisyu, yang tidak berhasil memperoleh tubuh manusia untuk praktik pembedahan karena adanya larangan dalam agama Islam, dan akhirnya menggunakan tubuh monyet, yang diantaranya didatangkan dari Nubia pada tahun 836 M sebagai hadiah untuk al-Mu’tashim.[8] Di tengah kondisi semacam itu, ilmu anatomi tubuh hanya mengalami sedikit kemajuan, kecuali mungkin dalam kajian tentang struktur anatomi mata. Karena cuaca panas seperti di Irak, dan daerah islam lainnya sering menyebabkan penyakit mata, maka focus kedokteran paling awal diarahkan untuk menangani penyakit itu. Dari tulisan Ibn Masawayh, kita mendapatkan sebuah risalah sistematik berbahasa Arab paling tua tentang optalmologi.[9] Selanjutnya sebuah buku yang berjudul al-‘Asyr Maqalat fi al-‘Ayan (sepuluh risalah tentang mata) yang dianggap sebagai karya muridnya, Hunayn ibn Ishaq, telah diterbitkan dalam bahasa inggris, sebagai buku teks tentang optal yang paling awal yang dimiliki dalam sejarah manusia.

Dalam pemahaman orang Arab bahwa seorang dokter sekaligus merupakan seorang ahli metafisika, filosof, dan sufi. Seperti halnya Jibril ibn Bakhtisyu (w 830 M) sebagai dokter pribadi khalifah Harun al Rasyid, al-Ma’mun, juga keluarga Barmak diriwayatkan telah mengumpulkan kekayaan sebanyak 88.800.000 dirham.

Dalam hal penggunaan obat-obatan untuk penyembuhan, banyak kemajuan berarti yang dilakukan orang Arab pada masa itu. Merekalah yang membangun apotek pertama, mendirikan sekolah farmasi pertama dan menghasilan buku daftar obat-obatan. Mereka telah berhasil menulis beberapa risalah tentang obat-obatan yang dimulai dengan risalah karya Jabir ibn Hayyan, yang dijuluki sebagai bapak kimia Arab yang hidup sekitar 776 M. Pada masa awal pemerintahan al-Ma’mun dan al-Mu’tashim, para ahli obat-obatan harus menjalani semacam ujian. Seperti halnya ahli obat-obatan, para dokter juga harus mengikuti tes. Semua dokter praktek harus mendapatkan sertifikat atau lisensi dari pihak khalifah untuk menjamin setiap dokter yang dipandang telah memberikan pelayanan yang memuaskan.

Pada masa khalifah Harun al-Rasyid dibangunlah rumah sakit islam pertama pada abad ke-9 M, yang mengikuti model Persia, seperti yang ditunjukkan oleh kosakata bahasa Arab untuk rumah sakit yaitu bimaristan[10]. Tidak lama setelah itu, jumlah rumah sakit diseluruh dunia islam bertambah menjadi 34 buah. Di Kairo dibangun rumah sakit islam pertama pada masa Ibn Thulun sekitar pada tahun 872 M, yang bertahan hingga abad ke-15. Klinik keliling muncul pada abad ke-11. Rumah-rumah sakit islam memiliki ruang khusus untuk perempuan dan dilengkapi dengan obat-obatan. Beberapa diantaranya dilengkapi perpustakaan kedokteran dan menawarkan kursus pengobatan.

Para penulis utama bidang kedokteran setelah babak penerjemahan adalah orang-orang Persia yang menulis dalam bahasa Arab, diantara mereka adalah ‘Ali al-Thabary, al-Razi, ‘Ali ibn al-‘Abbas al-Majusi dan Ibn Sina. Gambar dua orang diantara mereka yaitu al-Razi dan Ibn Sina menghiasi ruang besar Fakultas Kedokteran di Universitas Paris.[11]

‘Ali ibn Sahl Rabban al-Thabbi, yang hidup pada pertengahan abad ke-9 M, pada awalnya adalah pemeluk agama Kristen dari Tabaristan, sebagaimana yang ia ceritakan dalam bukunya Kitab al-Din, dan seperti tampak dalam nama ayahnya yaitu Rabban.[12] Pada masa pemerintahan al-Mutawakkil ia masuk Islam dan menjadi dokter pribadi khalifah. Pada tahun 850 M ia menulis buku yang berjudul Firdaws al-Hikmah (Surga Hikmah), salah satu kompedium obat-obatan tertua dalam bahasa Arab. Hingga batas tertentu, karya ini juga mencakup kajian filsafat dan astronomi, dan didasarkan atas sumber-sumber Yunani dan Hindu.

Setelah ‘Ali, muncul al-Razi, seorang filosof –teolog yang juga dokter terkenal. Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad ibn Zakariyya al-Razi (Rhazes, 865 -925 M), yang biasa disebut al-Razi sesuai dengan tempat kelahirannya yaitu Rayy, dekat Teheran, ibukota Iran. Ia dianggap sebagai “dokter muslim terbesar serta penulis paling produktif”.[13] Fihrist menyebutkan 113 buku tebal dan 28 judul buku tipis karya al-Razi, yang 12 diantaranya membahas ilmu kimia. Salah satu karya utamanya dalam ilmu kimia adalah Kitab al-Asrar (buku tentang rahasia). Ketika berada di Persia, al-Razi menulis buku untuk Manshur ibn Ishaq al-Samani dari Sijistan sebuah karya setebal 10 jilid, yang berjudul Kitab al-Thibb al-Manshuri, menggunakan nama Manshur sebagai penyokongnya.

‘Ali ibn al-‘Abbas (Haly Abbas, w. 994 M), yang awalnya menganut ajaran Zoroaster,[14] sebagaimana terlihat dalam namanya, al-Majusi, dikenal sebagai penulis buku al-Kitab al-Maliki (buku raja, Liber Regius), yang ia tulis untuk raja Buwayhi, ‘Adhud al-Dawlah Fanna Khusraw, yang memerintah antara 949 hingga 983 M.[15] Karya ini disebut juga Kamil al-Shina’ah al-Thibbiyah, sebuah “kamus penting yang meliputi pengetahuan dan praktik kedokteran.[16]

Nama paling terkenal dalam catatan kedokteran Arab setelah al-Razi adalah Ibn Sina (Avicenna, yang masuk ke bahasa Latin melalui bahasa Ibrani, Aven Sina, 980-1037 M), yang disebut oleh orang Arab sebagai al-Syaikh al-Rais, “Pemimpin” (orang terpelajar) dan “pangeran” (para pejabat).[17] Al-Razi lebih menguasai kedokteran daripada Ibn Sina, namun Ibn Sina lebih menguasai filsafat dibandingkan al-Razi. Dalam diri seorang dokter, filosof, dan penyair inilah ilmu pengetahuan Arab mencapai titik puncaknya.

Nama depan Ibn Sina adalah Abu ‘Ali al-Husayn, putera ‘Abdullah dari keluarga Ismail. Dilahirkan di Bukhara, ia menghabiskan seluruh masa hidupnya dibagian timur dunia islam dan dimakamkan di Hamadan.[18] Ibn Sina dianugrahi kemampuan luar biasa untuk menyerap dan memelihara pengetahuan, sarjana islam dari Persia ini membaca buku-buku di perpustakaan dan pada usia 21 tahun ia telah mampu menulis buku. Buku-buku yang ditulis oleh Ibn Sina lebih dari 200 karya yang mencakup tulisan tentang filsafat, kedokteran, geometri, astronomi, teologi dan filologi dan kesenian. Diantara karya-karya ilmiahnya, dua bukunya yang paling unggul adalah Kitab al-Syifa (buku tentang penyembuhan), serta al-Qanun fi al-Thibb, yang merupakan kodifikasi pemikiran kedokteran Yunani-Arab.[19]

Di antara buku-buku tentang kedokteran, salah satu buku yang juga polpuler adalah karya ‘Ali ibn ‘Isa (Jesu Haly), seorang ahli mata (kahhal) terkenal bangsa Arab. Diantara karyanya adalah 32 buku berbahasa Arab abad pertengahan tentang kedokteran mata, karyanya yang berjudul Tadzkirah al-Kahhalin[20] (catatan untuk para ahli mata). Kitab Tadzkirat menjelaskan dengan cermat 130 macam penyakit mata.

Dokter terakhir yang perlu disebutkan didalam tulisan ini adalah Ya’qub ibn Akhi Hizam, seorang ahli dalam penanganan masalah kuda khalifah al-Mu’tadhid (892-902 M), yang menulis sebuah risalah tentang perawatan kuda (al-Furusiyah wa Syiyat al-Khayl) yang merupakan karya berbahasa Arab pertama tentang kuda. Buku itu memuat cikal bakal seni perawatan kuda, dan kini manuskripnya disimpan di museum Inggris.

2)   Perkembangan Filsafat Islam

Bagi orang Arab, filsafat (falsafah) merupakan pengetahuan tentang kebenaran dalam arti yang sebenarnya, sejauh hal itu dapat dipahami oleh pikiran manusia. Secara khusus filsafat mereka berakar pada tradisi filsafat Yunani, yang dimodifikasi dengan pemikiran para penduduk di wilayah taklukan, serta pengaruh timur lainnya, yang disesuaikan dengan nilai-nilai islam, dan diungkapkan dalam bahasa Arab. Sebagai muslim orang Arab membedakan filsafat kedalam dua bagian, yaitu, pertama, menerapkan kata filosof atau sufi yang berdasarkan kepada pemikiran spekulatif yang tidak dibatasi oleh agama. Kedua, menerapkan istilah mutakallimun atau ahl al-Kalam (ahli bicara, ahli dialektika) pada orang-orang yang memposisikan system pemikirannya dibawah ajaran agama samawi. Kalam perlahan-lahan berubah maknanya menjadi teologi, dan mutakallimin akhirnya sinonim dengan teolog. Adapun nama-nama besar dalam bidang filsafat Arab adalah al-Kindi, al-Farabi, dan Ibn Sina.

Filosof pertama, al-Kindi, atau Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq, lahir di Kufah sekitar tahun 801 M, lalu tinggal dan meninggal di Baghdad pada tahun 873 M. karena merupakan keturunan asli Arab, maka ia memperoleh gelar “filosof bangsa Arab”, dan ia merupakan representasi pertama dan terakhir dari seorang murid Aristoteles di dunia timur yang murni keturunan Arab. System pemikirannya beraliran eklektisisme[21], namun al-Kindi menggunakan pola Neo-Platonis untuk menggabungkan pemikiran plato dan Aristoteles, serta menjadikan matematika Neo-Pythagorean sebagai semua ilmu. Karya-karya al-Kindi terdiri dari 361 karya, karya utamanya tentang ilmu optic geometris dan fisiologis. Selain itu al-Kindi juga menulis risalah tentang music yang merupakan karya pertama dalam bahasa Arab. Dalam salah satu risalahnya al-Kindi menggambarkan teori ritme (iqa’) sebagai bagian dari music Arab. Dengan demikian, lagu yang berritme, atau music yang terukur (mensural music) telah dikenal oleh orang Islam berabad-abad sebelum dikenal oleh orang Eropa Kristen.

Proyek harmonisasi antara filsafat Yunani dengan Islam, yang dimulai oleh al-Kindi, seorang keturuan Arab, dilanjutkan oleh al-FArabi, seorang keturunan Turki, dan disempurnakan di dunia timur oleh Ibn Sina, seorang keurunan Persia. Nama lengkap al-FArabi adalah Muhammad ibn Muhammad ibn Tharkhan Abu Nashr al-FArabi (AlphArabius) dilahirkan di Transoxiana[22], dididik oleh seorang dokter Kristen dan penerjemah Kristen di Baghdad, dan hidup sebagai sufi di Aleppo dalam istana Sayf al-Dawlah al-Hamdani. Ia meninggal di Damaskus tahun 950 M pada Usia sekitar 80 tahun. System filsafatnya, seperti yang terungkap dari beberapa risalahnya tentang plato dan Aristoteles, merupakan campuran antara Platonisme, Aristotelianisme, dan mistisme. Disamping sejumlah komentar terhadap Aristoteles dan filosof Yunani lainnya, al-FArabi juga menulis berbagai karya tentang psikologi, politik, dan metafisika. Salah satu karyanya yang terbaik adalah Risalah Fushush al-Hikam[23] (Risalah Mutiara Hikmah) dan Risalah fi Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah (Risalah tentang Pendapat Penduduk Kota Ideal). Dalam karyanya yang lain yaitu al-Siyasah al-Madaniyah (Politik Madani). Al-FArabi yang terilhami oleh Republic karya Plato, dan Politics karya Aristoteles, mengungkapkan konsepnya tentang sebuah kota ideal.

Setelah al-FArabi, Ibn Sina (w. 1037 M) merupakan tokoh yang menulis karya-karya paling penting dalam bahasa Arab tentang teori music. Ibn Sina, yang pernah dijuluki sebagai ahli kedoteran, banyak mengadopsi pandangan filosofis al-FArabi. Menurut Ibn Khallikan, “tidak ada satupun orang Islam yang pernah mencapai pengetahuan filosofis yang menyamai prestasi al-FArabi; dan melalui kajian terhadap berbagai karyanya, serta peniruan terhadap gaya penulisannya itulah Ibn Sina mencapai keunggulan.

Satu fenomena lain yang perlu dikemukakan dalam perkembangan filsafat islam pada masa Daulah ‘Abbasiyah selain ketiga filosof diatas adalah munculnya kelompok persaudaraan sufi. Sekitar pertengahan abad ke-4 Hijriah (± 970 M) sebuah madzhab filsafat eklektik yang cenderung pada pemikiran spekulatif Pythagoras, yang dikenal dengan nama Ihwân al-Shafâ.

3)   Perkembangan Kajian Ilmu Astronomi dan Matematika

Perkembangan ilmu astronomi dan matematika mulai berkembang pada masa pemerintahan al-Ma’mun. Kajian tentang perbintangan dalam islam mulai dilakukan seiring dengan masuknya pengaruh buku India, Siddanta (bahasa Arab, Sindhind) yang dibawa ke Baghdad pada tahun 771 M, diterjemahkan oleh Muhammad ibn Ibrahim al-Fazari, dan digunakan sebagai acuan oleh para sarjana pada masa selanjutnya. Table berbahasa Pahlawi (zik) yang dihimpun pada masa Daulah Sasaniyah ikut dimasukkan dalam bentuk terjemahan (zij). Unsure-unsur Yunani, yang baru muncul belakangan, termasuk diantara unsure penting yang pertama. Terjemahan awal karya Ptolemius, Almagest, disusul kemudian oleh dua karya yang lebih unggul yakni karya al-Hajjaj ibn Mathar yang selesai ditulis pada tahun 212 H/827-828 M, dan karya Hunayn ibn Ishaq yang direvisi oleh Tsabit ibn Qurrah (w. 901 M).

Pada awal abad ke-9 M, sebuah observasi (rasyd) rutin pertama dengan menggunakan peralatan yang cukup akurat dilakukan di Jundaysabur (Persia sebelah barat daya). Berdekatan dengan Bayt al-Hikmah, di pintu masuk Syammasiyah Baghdad, al-Ma’mun membangun sebuah observatorium dengan supervisor seorang Yahudi yang baru masuk Islam, Sind ibn ‘Ali dan Yahya ibn abi Manshur (w. 830 atau 831 M).[24] Di observatorium itu para astronom kerajaan tidak hanya mengamati dengan seksama dan sistematis berbagai gerakan benda-benda langit, tetapi juga menguji semua unsure penting dalam almagest dan menghasilkan amatan yang sangat akurat dalam mengukur sudut ekliptik bumi, ketepatan lintas matahari, panjang tahun matahari, dan sebagainya.[25] Al-Ma’mun membangun lagi sebuah observatorium di bukit Kasiyun di luar Damaskus.[26] Perangkat observasi pada masa itu terdiri atas busur 90°, astrolob, jarum penunjuk, dan bola dunia. Ibrahim al-Fazari (w. 777 M) adalah orang islam pertama yang membuat astrolob, yang meniru bentuk astrolob Yunani, seperti yang terlihat dari namanya dalam bahasa Arab (asthurlab). Salah satu risalah tentang perangkat ini ditulis oleh ‘Ali ibn ‘Isa al-Asthurlabi (pembuat asthurlab) yang tinggal di Baghdad dan Damaskus sebelum 830 M.

Seorang ahli astronomi lainnya yang terkenal pada masa itu adalah Abu al-‘Abbas ahmad al-Farghani (alfraganus) dari daerah Fargana Transoxiana, yang diserahi tugas oleh khalifah al-Mutawakkil untuk mengawasi pembangunan sebuah Nilometer di Fushtat.[27] Karya utama al-Farghani, al-Mudkhil ila ‘Ilm Hayah al-Aflak,[28] diterjemahkan kedalam bahasa latin oleh John dari Seville dan Gerrad dari Cremona, ke bahasa Ibrani pada tahun 1131 M dalam versi bahasa Arab, buku itu ditemukan dengan judul yang berbeda. Antara tahun 877 dan 918 M, Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir al-Battani (albategnius) seorang ahli astronomi bangsa Saba yang terbesar pada masa Islam. Ia membuktikan kemungkinan terjadinya gerhana matahari cincin, menentukan sudut ekliptik bumi dengan tingkat keakuratan yang lebih besar, dan mengemukakan berbagai teori orisinal tentang kemungkinan munculnya bulan baru.[29]

Dalam ilmu pengetahuan alam, seorang ilmuwan muslim yang terkenal adalah Abu al-Rayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni (973-1050 M) yang tinggal di Baghdad. Al-Biruni dipandang sebagai sarjana Islam paling orisinal dan terkenal dalam bidang ilmu pengetahuan alam. Al-Biruni menulis sebuah catatan tentang ilmu astronomi berjudul al-Qanun al-Mas’udi fi al-Hay’ah wa al-Nujum yang dipersembahkan untuk sahabatnya Mas’ud putera Mahmud. Ia juga menulis buku yang berjudul al-Tafhim li Awa’il Shina’ah al-Tanjim, yang terutama membahas berbagai perhitungan tahun, dan masa hidup bangsa-bangsa pada masa silam. Selain itu ada juga seorang ahli matematika dan astronomi yang terkenal dengan usahanya dalam membuat sebuah kalender yang diberi nama dengan nama sultan, al-Tarikh al-Jalali yang bahkan lebih akurat daripada kalender gregorius, yang keliru satu hari dalam 3330 tahun.[30]

Adapun dalam bidang astrologi yang merupakan ilmu pendukung astronomi telah dikenal salah seorang astrolog pada masa itu yakni Abu Ma’syar (w. 886 M), yang berasal dari Khurasan dan tinggal di Baghdad. Empat karyanya telah diterjemahkan kedalam bahasa latin pada abad ke-12 oleh John dari Seville dan Adelard dari Bath. Selain keyakinan fantatisnya akan pengaruh benda langit terhadap kelahiran, kejadian dalam hidup, dan kematian segala sesuatu, Abu Ma’syar juga memperkenalkan ke Eropa hukum pasang surut air laut, yang ia jelaskan dalam kaitannya dengan timbul dan tenggelamnya bulan.

Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi (780 sampai ± 850 M),[31] adalah tokoh utama dalam kajian matematika Arab. Sebagai seorang pemikir Islam terbesar, ia telah mempengaruhi pikiran dalam bidang matematika. Disamping telah menyusun table astronomi tertua, al-Khawarizmi juga menulis karya tentang aritmatika dan aljabar. Karyanya yang berjudul, Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah, yang dilengkapi lebih dari 800 contoh yang sebagian diantaranya diambil dari contoh yang diberikan oleh orang Neo-Babilonia, merupakan karya utamanya, yang masih ditemukan dalam bahasa aslinya. Orang yang terpengaruh oleh pemikiran aljabar matematika al-Khawarizmi salah satunya adalah ‘Umar al-Khayyam. Aljabar al-Khayyam yang merupakan pengembangan dari teori aljabar al-Kahwarizmi, membahas solusi pecahan tingkat dua dengan menggunakan geometrid an aljabar (geometric and algebraic solutions of equations of the second degree) dan pengelompokkan pecahan yang menakjubkan.

4)   Perkembangan dalam Bidang Kimia

Setelah ilmu kedokteran, astronomi dan matematika, orang-orang muslim pada masa Daulah ‘Abbasiyah telah memberikan kontribusi ilmiah terbesar dalam bidang kimia. Dalam ilmu kimia dan ilmu pengetahuan fisika lainnya orang Arab telah memperkenalkan tradisi penelitian objektif, sebuah perbaikan penting terhadap pemikiran spekulatif orang Yunani.

Bapak kimia[32] bangsa Arab adalah Jabir ibn Hayyan[33] (Geber), hidup di Kuffah sekitar 776 M setelah al-Razi (w. 925 M), ia merupaka  tokoh terbesar dalam bidang ilmu kimia pada abad pertengahan. Seperti orang Mesir dan Yunani Jabir percaya bahwa logam biasa seperti seng, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas, atau perak dengan formula tertentu dan sangat rahasia (misterius). Buku-buku yang ditulis oleh Jabir ibn Hayyan diantaranya adalah Kitab al-Rahmah (Buku Cinta), Kitab al-Tajmi’ (Buku tentang Konsentrasi), al-Zibaq al-Syarqi (Air Raksa Timur). Salah satu keberhasilan Jabir ibn Hayyan adalah berhasil menggambarkan secara ilmiah dua operasi utama kimia yaitu kalnikasi dan reduksi kimiawi. Ia memperbaiki berbagai metode penguapan, sublimasi, peleburan, dan kristalisasi.

5)   Perkembangan dalam Kajian Ilmu Geografi

Kewajiban melaksanakan ibadah haji, keharusan menghadapkan mihrab masjid ke arah Mekah, dan penentuan arah kiblat ketika shalat telah memberikan nilai keagamaan kepada orang Islam dalam mempelajari geografi. Berdasarkan kisah perjalanan yang dilakukan oleh para saudagar dan pedagang muslim pada waktu itu dan menggambarkan tentang keadaan suatu wilayah yang disinggahinya telah membangkitkan minat masyarakat untuk pergi ke berbagai negeri yang jauh dan bertemu dengan orang-orang asing.

Perkembangan geografi sehingga menjadi salah satu disiplin ilmu banyak dipengaruhi oleh khazanah Yunani dalam bidang ini. Buku Geography karya ptolemius, yang menyebutkan berbagai tempat berikut garis bujur dan lintang buminya, diterjemahkan beberapa kali ke dalam bahasa Arab langsung dari bahasa aslinya atau dari terjemahannya dalam bahasa suriah, terutama oleh Tsabit ibn Qurrah (w. 901 M). Dengan meniru buku itu, Khawarizmi menyusun karyanya, Surah al-Ardh (gambar/peta bumi), yang menjadi acuan karya-karya berikutnya, dan berhasil membangkitkan semangat dalam pengembangan ilmu geografi dan penulisan risalah geografis yang orisinal.

Risalah-risalah geografis bahasa Arab pertama yang independen biasanya berbentuk buku petunjuk jalan, terutama yang menunjukkan tempat-tempat penting. Ibn Khurdadzbih (w. ± 912), seorang keturunan Persia, direktur pos dan intelijen di al-Jibal (media), mengawali serangkaian risalah geografis itu dengan karyanya, al-Masalik wa al-Mamalik. Selain Ibn Khurdadzbih ada juga penulis risalah geografis belakangan yaitu Ibn Wadhih al-Ya’qubi yang menulis Kitab al-Buldan (Buku Negeri-Negeri), setelah itu muncul pula tulisan Qudamah yang menulis buku al-Kharaj yang menjelaskan tentang pembagian wilayah kekhalifahan ke dalam berbagai propinsi, organisasi layanan pos, dan pajak setiap wilayah.

6)   Perkembangan dalam Kajian Ilmu Historiografi

Kebanyakan tulisan sejarah berbahasa Arab paling awal berasal dari masa Daulah ‘Abbasiyah. Tema utama yang menjadi tulisan sejarah berasal dari legenda dan anekdot yang terkait dengan masa-masa pra Islam, dan tradisi keagamaan yang berkisar pada nama dan kehidupan Nabi. Tentang masa pra-Islam tercatat nama Hisyam al-Kalbi (w. 819 M) dari Kufah. Dari 129 karyanya, hanya tiga karyanya yang masih ada;[34] namun berbagai bagian tulisan dari karya-karya lainnya dapat dibaca dalam bentuk kutipan dalam karya-karya al-Thabari, Yaqut, dan para penulis sejarah lainnya.

Karya pertama yang didasarkan atas tradisi keagamaan adalah Sirah Rasul Allah, sebuah biografi Nabi karya Muhammad ibn Ishaq dari Madinah. Kemudian muncul karya tentang peperangan dan penaklukan Islam paling awal, Maghazi, karya Musa ibn ‘Uqbah (w. 758 M), al-Waqidi (w. 822), yang keduanya berasal dari Madinah. Dua sejarawan utama yang menulis tentang penaklukan-penaklukan Islam adalah Ibn ‘Abd al-Hakam (w. 870-871 M) dari Mesir, yang karyanya, Futuh Mishr wa Akhbaruha, menjadi dokumen tertua tentang penaklukan Mesir, Afrika Utara, dan Spanyol, serta Ahmad ibn Yahya al-Baladhuri (w. 892 M) dari Persia yang menulis dalam bahasa Arab. Karya Utamanya berjudul Futuh al-Buldan[35] dan Anshab al-Ashraf,[36] (Buku Genealogi para Bangsawan. Al-Baladhuri merupakan orang pertama yang merangkum berbagai cerita penaklukan berbagai kota dan negeri ke dalam satu satu kompedium, dan mengakhiri penggunaan menograf sebagai sumber penulisan sejarah.[37]

Diantara sejarawan formal pertama adalah Ibn Qutaybah, yang nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Muslim al-Dinawari. Ibn Qutaybah meninggal di Baghdad pada tahun 889 M setelah menuntaskan penulisan bukunya yang berjudul Kitab al-Ma’arif (Buku Pengetahuan) sebuah buku pegangan sejarah. Sejarawan muslim paling menonjol pada masa itu adalah al-Thabari dan al-Mas’udi.

Ketenaran Abu Ja’far Muhammad ibn al-Thabari (838-923 M), yang lahir di Tabaristan, adalah karena buku sejarahnya yang sangat terperinci dan akurat yaitu Tarikh al-Rasul wa al-Muluk (Sejarah Rasul dan Para Raja), dan juga dikenal karena tafsir Alqur’annya[38]. Dengan tafsirnya, yang awalnya disusun dalam skala pembahasan yang lebih luas, ia bukan saja telah membangun tradisi tafsir paling awal, tapi juga menulis kitab tafsir paling tebal. Tafsirnya menjadi karya standar yang diikuti oleh para penafsir Alqur’an belakangan. Karyanya yang monumental tentang sejarah dunia, yang juga merupakan buku sejarah terlengkap dalam bahasa Arab, telah menjadi sumber rujukan para sejarawan berikutnya, seperti Miskawayh, Ibn al-Atsir, dan Abu al-Fida. Seperti kebanyakan sejarawan muslim, al-Thabari mengisahkan berbagai peristiwa secara kronologis, dan memasukkannya kedalam daftar berdasarkan tahun Hijriah.

Abu al-Hasan ‘Ali al-Mas’udi adalah salah satu sejarawan muslim yang lainnya yang terkenal, bahkan ia dijuluki sebagai “Herodotus bangsa Arab”. Ia memprakarsai metode tematis dalam penulisan sejarah. Metode yang dilakukan oleh al-Mas’udi bukan berdasarkan kepada tahun kejadian seperti halnya yang dilakukan al-Thabari, akan tetapi mengelompokkan peristiwa berdasarkan Daulah, raja, dan masyarakatnya, yang kemudian diikuti oleh Ibn Khaldun dan sejarawan lainnya.

 

  1. D.       Kemajuan dalam Bidang Keagamaan

1)   Perkembangan dalam Kajian Teologi dan Hadis

Perhatian dan minat orang Arab Islam pada masa paling awal tertuju pada cabang keilmuan yang lahir karena motif keagamaan. Kebutuhan untuk memahami dan menjelaskan Alqur’an, kemudian menjadi landasan kajian teologis dan linguistik yang serius. Interaksi dengan dunia Kristen pada abad pertama Hijriah di Damaskus telah memicu timbulnya pemikiran spekulatif teologis yang melahirkan madzhab pemikiran Murji’ah dan Qodariah. Pada masa Dinasti Bani Abbas perkembangan teologis yang dominan pada saat itu adalah Mu’tazilah karena dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Teologi Mu’tazilah banyak dianut oleh golongan elit istana kekhalifahan dan cendekiawan. Bahkan khalifah Al-Ma’mun memjadikan teologi Mu’tazilah sebagai teologi resmi Negara. Namun pada masa itu lahir pula teologi Ahlussunnah yang dideklarasikan oleh Abu al-Hasan al-‘Asy’ari dan Al-Maturidi pada abad ke IX dan X Masehi.[39]

Bidang kajian berikutnya adalah hadis (sunnah), yaitu perilaku, ucapan, dan persetujuan (taqrir) Nabi, yang kemudian menjadi sumber ajaran paling penting setelah Alqur’an. Pada awalnya hadis hanya diriwayatkan dari mulut ke mulut, kemudian hadis nabi direkam dalam bentuk tulisan pada abad kedua Hijriah. Oleh karena itu, hadis didefinisikan sebagai catatan perilaku atau perkataan Nabi. Dalam pengertian yang lebih umum, hadis juga didefinisikan sebagai catatan perilaku atau perkataan para Sahabat dan Tabi’in.[40] meskipun tidak setara dengan Alqur’an, hadis nabi memiliki pengaruh yang sama terhadap pemikiran Islam. Dalam hadis, Nabi Muhammad saw yang berbicara, sedangkan dalam Alqur’an Allah yang berfirman. Dalam hadis hanya maknanya yang diwahyukan sedangkan dalam Alqur’an, ungkapan verbal dan maknanya merupakan wahyu Allah.

Selama dua setengah abad setelah Nabi Muhammad saw wafat, catatan tentang perkataan dan prilakunya terus bertambah. Terhadap berbagai persoalan baik itu persoalan agama, politik, atau social, setiap kelompok berusaha mencari hadis untuk memperkuat pendapatnya, baik itu hadis shahih maupun hadis palsu. Perseteruan politik antara ‘Ali dan Abu Bakr, konflik antara Mu’awiyah dan ‘Ali, permusuhan antara Daulah ‘‘Abbasiyah dan Daulah Umayyah, serta persoalan superioritas anatara orang Arab dan non-Arab, membuka pintu yang sangat lebar untuk menjamurnya pemalsuan hadis.

Abad ke-3 Hijriah menyaksikan penyusunan enam kitab hadis yang sejak saat itu menjadi kitab hadis standar. Dari “enam kitab hadis” itu, yang paling pertama dan paling otoritatif adalah yang dihimpun oleh Muhammad ibn Ismail al-Bukhari (810-870 M). Al-Bukhari adalah seorang keturunan bangsa Persia. Ia memilih 7.397 dari 600.000 hadis[41] yang ia peroleh dari 1.000 guru dalam rentang waktu 16 tahun perjalanan, dan kerja kerasnya di Persia, Irak, Suriah, Hijaz dan Mesir. Kitab hadis al-Bukhari memiliki pengaruh paling besar terhadap pola piker orang islam setelah Alqur’an.

Setelah kitab hadis al-Bukhari, posisi kedua ditempati oleh kitab hadis karya Muslim ibn al-Hajjaz (w. 875 M) dari Naisabur,[42] sebuah karya yang memiliki judul serupa yakni al-Shahih, yaitu kumpulan hadis shahih. Hadis yang terdapat dalam Shahih Muslim juga hamper sama dengan hadis dalam kitab al-Bukhari, meskipun dengan sanad yang berbeda. Seteleah kedua kitab hadis tersebut, posisi berikiutnya ditempati oleh empat koleksi hadis lain yang dianggap sacral oleh umat islam. Keempat koleksi hadis itu adalah Sunan Abu Dawud dari Bashrah (w. 888), Jami‘ al-Tirmidzi (w. 892 M), Sunan Ibn Majah dari Qazwin (w. 886 M) dan  Sunan al-Nasa’i, yang meninggal di Mekah pada tahun 915 M.

2)   Perkembangan dalam Kajian Hukum dan Etika (Akhlaq) Islam.

Setelah orang Romawi, orang Arab adalah satu-satunya bangsa pada abad pertengahan yang melahirkan ilmu yurisprudensi, dan darinya berkembang sebuah system yang independen. System tersebut dinamakan dengan Fiqh, yang pada prinsipnya didasarkan atas Alqur’an dan sunnah (hadis). Fiqh adalah ilmu yang memuat berbagai hukum Islam (Syari’ah), meliputi seluruh perintah Allah swt sebagaimana tertuang dalam Alqur’an dan diuraikan dalam hadis yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Perintah-perintah itu meliputi aturan-aturan yang terkait dengan praktik ibadah, kewajiban sipil, dan hukum (mu’amalah), dan hukuman (‘uqubat).

Dari sekitar 6.000 ayat Alqur’an, hanya sekitar 200 ayat yang bias disebut ayat-ayat hukum yang kebanyakan merupakan ayat-ayat Madaniyah terutama surat ke-2 (al-Baqarah) dan ke-4 (al-Nisa‘). Terlihat jelas bahwa berbagai ketentuan hukum di dalamnya tidak cukup memadai untuk menangani semua kasus yang dihadapi umat islam dalam berbagai kondisi dan situasi baru di Suriah, Irak, dan wilayah lain yang baru ditaklukkan. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah pemikiran spekulatif yang melahirkan dua prinsip baru yaitu qiyas (deduksi analogis) dan ijma‘ (kesepakatan bersama). Jadi, yurisprudensi Islam memiliki sumber baru disamping Alqur’an dan hadis. Adapaun tentang ra’y, yaitu penalaran rasional, meskipun sering dijadikan sandaran, ia hamper tidak dipandang sebagai sumber hukum kelima.[43]

Karena perbedaan kondisi social dan latar belakang budaya dan pemikiran setiap wilayah, pemikiran hukum islam pada gilirannya berkembang kedalam sejumlah Madzhab pemikiran yang berbeda. Madzhab pemikiran Irak, misalnya, lebih menekankan pada penggunaan pemikiran spekulatif dalam hukum ketimbang madzhab Madinah yang lebih bersandar pada hadis.[44] Tokoh paling terkenal dalam madzhab ini adalah Abu Hanifah, yang nama lengkapnya al-Nu’man ibn Tsabit. Ia hidup di Kufah dan Baghdad, dan meninggal pada tahun 767 M. ia bekerja sebagai seorang pedagang. Abu Hanifah menjadi ahli hukum pertama dan paling berpengaruh dalam Islam. Ajaran yang ia sebarkan secara lisan kepada muridnya yang salah satu diantaranya adalah Abu Yusuf (w. 798 M) telah mewariskan pendapat gurunya dalam karyanya, Kitab al-Kharaj. Dalam menetapkan hukum Abu Hanifah menekankan prinsip “prefensi” atau Istihsan, yang melepaskan diri dari ikatan analogi untuk mengejar keadilan yang lebih besar.[45]

Pemimpin madzhab Madinah, yang lebih akrab dengan pola pikir Nabi, adalah Malik ibn Anas (715-795 M), yang karyanya, al-Muwaththa merupakan kitab hukum Islam tertua yang pernah ditemukan. Karya monumental ini, dengan 1700 hadis hukum, menghimpun sunnah-sunnah Nabi, membuat rumusan pertama tentang ijma‘ (consensus) masyarakat Madinah dan menjadi kitab hukum madzhab Maliki. Dari Maroko dan Andalusia, madzhab ini telah melahirkan al-Awza’I (w 774 M) dan al-Zhahiri (815-883 M), dan hingga saat ini masih bertahan diseluruh Afrika utara, kecuali mesir bagian bawah dan Arab bagian timur. Setelah Abu Hanifah dan Malik ibn Anas, berbagai kajian hukum berkembang pesat, sehingga menjadi cabang pemikiran di dunia Islam yang dikaji secara besar-besaran.

Antara madzhab Irak yang liberal dan madzhab Madinah yang konservatif, muncul madzhab lain yang mengklaim telah membangun jalan tengah yakni menerima pemikiran spekulatif dengan catatan tertentu. Madzhab ini didirikan oleh Muhammad ibn Idris al-Syafi’i. Lahir di Gazza, Palestina pada tahun 767 M/150 H. Al-Syafi’i adalah keturunan Quraisy, ia belajar kepada Malik ibn Annas di Madinah, namun aktivitasnya adalah Baghdad dan Kairo. Ia meninggal pada tahun 820 M/204 H di Kairo. Ajaran al-Syafi’i masih mendominasi Mesir bagian bawah, Afrika bagian timur, Palestina, Arab bagian barat dan selatan, wilayah pantai India dan Indonesia. Pengikutnya berjumlah sekitar 105 juta orang, sementara pengikut Hanafi 180 juta orang, pengikut Malik 50 juta orang, dan pengikut Hanbali 5 juta orang.

Madzhab keempat dan terakhir yang dianut oleh komunitas Islam, selain Syi’ah adalah madzhab Hanbali, yang mengambil nama dari pendirinya yaitu Ahmad ibn Hanbal, seorang murid al-Syafi’i, dan pengusung ketaatan mutlak terhadap hadis. Konservatisme Ibn Hanbal merupakan benteng ortodoksi di Baghdad terhadap bentuk inovasi kalangan Muktazilah. Meskipun telah menjadi korban inkuisisi (mihnah)[46], dan pernah diikat dengan rantai pada masa al-Ma’mun, serta dihina, dan dipenjara oleh al-Mu’tasim, Ibn Hanbal tetap teguh pada pendiriannya, dan tidak mengakui berbagai bentuk modifikasi terhadap keyakinan tradisional. Sekitar 800 ribu laki-laki dan 60 perempuan yang menghadiri pemakamannya di Baghdad pada tahun 855 M menegaskan pengaruh kuat pengusung ortodoksi ini terhadap masyarakat luas. Generasi berikutnya memuliakan makamnya seperti layaknya seorang sufi dan menganugerahinya gelar Imam seperti yang mereka berikan kepada Abu Hanifah, Malik ibn Anas, dan al-Syafi’i.

Dibidang etika atau akhlaq meskipun sangat banyak jumlahnya, namun setidaknya terdapat tiga jenis karya etika. Karya-karya tersebut membahas tatanan moral yang paripurna, serta peningkatan kualitas semangat dan prilaku (adab). Beberapa karya-karya ulama pada masa itu yang membahas tentang etika/akhlaq yaitu al-Durrah al-Yatimah karya Ibn al-Muqaffa, kitab Adab al-Dunya wa al-Din karya al-Mawardi, Kitab al-Akhlaq karya Hunayn yang pada selanjutnya menjadi landasan filsafat moral Islam, serta kitab Tahdzib al-Akhlaq, merupakan karya etika terbaik yang sarat dengan nuansa filosofis yang pernah ditulis seorang muslim.

3)   Perkembangan Sastra dan Bidang Kajian Lain

Apa yang dinamakan “sastra Arab” bukanlah sastra Arab seperti halnya sastra-sastra Italia dan sastra latin pada abad pertengahan. Penulis karya sastra Arab adalah orang yang berasal dari berbagai etnis, dan secara keseluruhan mewakili monument abadi sebuah peradaban, bukan semata monumen sebuah bangsa. Sastra Arab dalam pengertian sempit, yakni adab mulai dikembangkan oleh al-Jahiz (w. 868-869 M), guru para sastrawan Baghdad, dan mencapai puncaknya pada abad ke-4 dan ke-5 Hijriah melalui karya-karya Badi al-Zaman al-Hamadzani (969-1008 M), al-Sya’labi dari Naisabur (961-1038), dan al-Hariri (1054-1122 M). salah satu cirri penulisan prosa pada masa itu adalah kecenderungan untuk menggunakan ungkapan-ungkapan hiperbolik dan bersayap.[47]

Pada masa Badi al-Zaman al-Hamadzani muncullah sebuah bentuk baru sastra yang disebut sebagai maqamah, yaitu sejenis anekdot dramatis yang substansinya berusaha dikesampingkan oleh penulis untuk mengedepankan kemampuan puitis, pemahaman, dan kefasihan bahasanya. Pada kenyataannya, bentuk karya maqamah bukanlah karya satu orang saja, melainkan merupakan perkembangan alami dari prosa berirama, dan penyusunan kata bersayap seperti yang dilakukan oleh Ibn Durayd dan para penulis sastra lainnya. Karya al-Hamadzani merupakan model bagi al-Hariri dari Bashrah, yang selama tujuh abad maqamah-nya dipandang sebagai warisan berharga, setelah Alqur’an di bidang sastra Arab.

Bentuk sastra yang paling dikenal dunia sebagai warisan budaya paling menonjol dalam bidang sastra pada masa Daulah ‘Abbasiyah adalah Alf Lailah wa Laylah atau lebih dikenal dengan sebutan kisah seribu satu malam. Acuan penulisan sastra tersebut adalah kisah-kisah dari penutur kisah local, kisah-kisah rakyat dari timur dan Yunani terserap kedalamnya dan menjadikan istana khalifah Harun al-Rasyid sebagai sumber pengambilan berbagai anekdot lucu dan kisah romantic dalam jumlah besar.

Dalam bidang puisi dan sajak tokoh Abu Nawas adalah yang paling popular di masa ke khalifahan Harun al-Rasyid dan al-Amin. Ia merupakan seorang yang mampu menyusun lagu terbaik tentang kisah-kisah romantic bahkan anekdot-anekdot yang membuat decak kagum banyak orang. Puisi ghazal merupakan salah satu karya Abu Nawas. Tokoh Abu Nawas yang kocak dan cerdas sering membuat seluruh kehidupan istana khalifah Harun al-Rasyid menjadi lebih semarak.

 

  1. E.       KESIMPULAN

Pada dasarnya Daulah ‘Abbasiyah ini terutama periode-periode awal adalah puncak keemasan peradaban Islam (The Golden Age of Islamic Civilization), dari sanalah lahir beberapa tokoh yang mampu melahirkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan menjadi lebih maju. Ada beberapa factor yang menyebabkan majunya ilmu pengetahuan pada masa Daulah ‘Abbasiyah diantaranya adalah adanya persamaan dalam hal superioritas antara bangsa Arab dan Bangsa non-Arab sehingga banyak menyumbangkan pemikir-pemikir yang handal tanpa memandang kesukuan dan bangsa. Factor kedua adalah dukungan dari penguasa saat itu diantaranya khalifah Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun yang keduanya sangat mendukung terhadap ilmu pengetahuan dengan bangunnya Bait al-Hikmah yang salah satu aktivitasnya adalah gerakan penerjemahan buku-buku berbahasa asing baik itu Yunani, Persia, India maupun bahasa lainnya.

Ada perbedaan yang mencolok dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Daulah ‘Abbasiyah ini yaitu dalam hal orang-orang yang berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut. Perkembangan ilmu pengetahuan bidang sains lebih didominasi oleh orang-orang dari luar bangsa Arab, seperti Persia dan Turki yang memang mempunyai kelebihan dan minat terhadap ilmu-ilmu sains dibandingkan dengan orang-orang bangsa Arab yang lebih berminat mengembangkan ilmu pengetahuan yang berlandaskan keagamaan seperti halnya dalam bidang teologis, hadis,  fikih, dan tasawuf.

 

  1. F.        DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Amīn, Dluhā al-Islām, Kairo, Maktabah Nahdlah Al-Misriyah, Vol. I, Cet. 7.

Ahmad Ma`mūr al-`Usayri, Mūjaz al-Tārikh al-Islāmi, Damām, Maktabah al-Malik Fahd al-Wataniyah, Cet. 3, 2004.

Ahmad Shalabi, Mawsū`ah al-Tārikh al-Islāmi wa al-Hadlārah al-Islāmiyah, Kairo, Maktabah al-Nahdlah al-Misriyah, Vol. III, Cet.8, 1985.

Bernard Lewis, ‘AbbÉsid, dalam E. Van Donzel et. al. (Ed.), The Encyclopaedia of Islam, Leiden, E.J. Brill, 1997.

Eric Hanne, ‘Abbasids, dalam Josef W. Meri (Ed.), Medieval Islamic Civilization: An Encyclopaedia, New York & London, Routledge, 2006.

George Modelski, World Cities: –3000 to 2000, Washington DC: FAROS 2000, 2003

Hāji Khalīfah, Kashf al-Dzunūn, bab. `Ilm Al-Hikmah, vol. I, hlm 676 (dalam Software al-Maktabah al-Shamilah Edisi 2.32).

Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI Press, 1984

Hasan Ibrāhīm Hasan, Tārikh al-Islām: al-Siyāsi wa al-Dīni wa al-Tsaqāfi wa al-Ijtima`i, Beirut-Kairo, Maktabah Al-Jīl & Maktabah al-Nahdlah al-Misriyah, Vol. II, Cet. 14, 1996

http://en.wikipedia.org/wiki/House_of_Wisdom, diakses terakhir pada tanggal 13 Oktober 2011

Ibn Khaldun, Muqaddimah, hal. 476; Alfred Guillaume, The Traditions of Islam (Oxford, 1924).

Ibn al-Nadīm al-Baghdādi, Al-Fihrist, hlm. 304 (dalam Software al-Maktabah al-Shamilah Edisi 2.32).

Jalāluddīn Al-Suyūti, Tārikh al-Khulafā, Tahqīq: Ahmad Ibrāhīm Zahwah & Sa`īd Ibn Ahmad al-`Aidrūsi, Beirut, Dār al-Kitāb  al-`Arabi, 2006.

Muhamad al-Sādiq `Afīfi, Tatawwur al-Fikr al-’Ilmi`Inda al-Muslimīn, Kairo, Maktabah al-Khānji, 1976-1977.

Muhamad Ibn Sa’d ibn Manī`,Al-Tabaqāt al-Kubrā, Tahqiq: Ihsān Abbās, Beirut, Dār Sādir, Cet. 1, 1986

M.M. Sharīf, Al-Fikr al-Islāmi: Manābi`uhu wa Ātsāruhu, diterjemahkan dan dikomentari serta diberi beberapa tambahan oleh oleh Dr. Ahmad Shalabi dari buku aslinya berjudul Islamic Thought: It’s Origin and Achievements, Kairo, Maktabah al-Nahdlah al-Misriyah, Cet. 8, 1986.

Philip K. Hitti, History of Arabs 3rd Edition, London: Macmillan and Co., Limited St. Martin’s Street, 1946.

Siddīq Ibn Hasan al-Qannūji, Abjad al-`Ulūm al-Washi al-Marqūm fī Bayān Ahwāl al-`Ulūm, Vol. I, hlm.179 (dalam Software al-Maktabah al-Shamilah Edisi 2.32.

Sulaymān al-Khatīb, Usus Mafhūm al-Hadlārah fī al-Islām, Kairo, Al-Zahrā’ li al-I`lām al-`Arabi, Cet.I, 1986

Vartan Gregorian, Islam : A Mosaic, Not a Monolith, Brookings Institution Press, 2004

 

 


[1] Dinasti sendiri berasal dari bahasa Inggris “dynasty” yang berarti a line of hereditary rulers. a succession of powerful or prominent people from the same family. Lihat : Software Concise Oxford Dictionary, Oxford University Press, Edisi 10.

[2] Bernard Lewis, ‘AbbÉsid, dalam E. Van Donzel et. al. (Ed.), The Encyclopaedia of Islam, Leiden, E.J. Brill, 1997, Vol. I, h. 17; Eric Hanne, ‘Abbasids, dalam Josef W. Meri (Ed.), Medieval Islamic Civilization: An Encyclopaedia, New York & London, Routledge, 2006, Vol. I, hlm. 1; Ahmad Ma`mūr al-`Usayri, Mūjaz al-Tārikh al-Islāmi, Damām, Maktabah al-Malik Fahd al-Wataniyah, Cet. 3, 2004, hlm. 166. Meski sepakat dengan pembagian dua periode sebagaimana dua sumber sebelumnya, namun al-`Usayri memberi tahun yang berbeda untuk masing-masing perode. Dalam pandangannya, periode pertama berlangsung antara tahun 749-861 M / 132-247 H, sedangkan periode kedua berlangsung antara tahun 861-1258 M/247-656 H

[3] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI Press, 1984, hlm. 70

[4] Ibid, hlm. 70

[5] Ibid, hlm. 69

[6] Ibid, hlm. 69

[7] Philip K Hitti, History Of Arabs, hal. 454

[8] Ibn abi Ushaybi’ah, Jilid I, hal. 178

[9] Daghal al-‘ayan (gangguan pada mata), MS.: satu salinannya diperpustakaan tamsyur Pasha, Kairo dan yang lainnya disimpan di Leningrad.

[10] Bahasa Persia, bimar, sakit + stan, tempat.

[11] Philips K. Hitti, Op.Cit,. hlm. 457

[12] Lihat Philips K Hitti, History of Arabs, hal 124-125  dan Book of Religion, hal. 147. Lihat juga Fihrist, hal. 296; bandingkan dengan Ibn Khallikan, Jilid II, hal. 503. “Rabban”, nama ayahnya yang membuat para sarjana berfikir bahwa ia adalah keturunan yahudi, namun sebenarnya adalah nama khas suriah yang berarti “tuan kami”, seperti yang dijelaskan ‘Ali dalam kata pengantarnya di buku Firdaus al-Hikmah fi al-Thibb, Muhammad Z Shiddiqi, ed. (Berlin, 1928).

[13] Edward G. Browne, Arabian Medicine (Cambridge, 1921), hal. 44

[14] Zoroasterisme adalah suatu agama yang tergabung dalam kelompok agama non-Semitik, Arya, dan non-Vedic, berbeda dengan agama Hindu. Ia merupakan agama yang dibawa oleh seorang nabi. Nama lain dari agama Zoroaster ini adalah Parisisme. Agama ini didirikan oleh nabi Zoroaster. Agama Zoroaster merupakan agama kuno di Persia yang telah berusia 2500 tahun dan kitab-kitab suci mereka adalah kitab Dasatir dan kitab Awesta. Kitab Dasatir terbagi ke dalam ‘Khurdadasatir’ atau ‘Kalan Dasatir’. Sedangkan kitab Awesta bisa terbagi lagi ke dalam ‘Kurdha Awesta’ atau ‘Kalan Awesta’, atau ‘The Maha Awesta’ atau ‘Zendth Awesta’.

[15] Ibn abi Ushaybi’ah, Jilid I, hal. 236-237; Qifthi, hal. 232

[16] Qifthi, hal. 232. Untuk salinan lengkap MS. Yang berangka tahun 587 H./1190 M. Lihat Hitti, Faris dan ‘Abd al-Malik, Catalog of Arabic Manuscripts, suplemen no.1.

[17] Juga disebut dengan al-Mu’allim al-Tsani, guru kedua (setelah Aristoteles)

[18] Hamadan atau Hamedan ( Persia : همدان, Lama Persia : Hagmatana, Yunani Kuno : Ecbatana ) adalah ibu kota Provinsi Hamadan dari Iran .Pada sensus 2006, populasinya adalah 473.149, 127.812 keluarga di.  Hamadan diyakini berada di antara kota-kota Iran tertua dan salah satu yang tertua di dunia. Hamadan memiliki daerah pegunungan hijau di kaki bukit Gunung Alvand 3574 meter, di bagian barat Iran. Kota ini 1850 meter di atas permukaan laut.Sifat khusus dari kota tua dan situs bersejarah yang menarik wisatawan selama musim panas ke kota ini, terletak sekitar 360 km barat daya Teheran .Simbol-simbol utama kota ini adalah Ganjnameh prasasti, juga terdapat monumen Ibnu Sina  dan Baba Taher.

[19] Philips K. Hitti,. Op. Cit. hal. 460

[20] Ibn abi Ushaybi’ah, Jilid I, hal. 247. Diterjemahkan, bukan dari bahasa Arab, oleh Casey A. Wood, The Tadzkirat of Ali ibn Isa (Chicago, 1936).

[21] Eklektisisme adalah sikap berfilsafat dengan mengambil teori yang sudah ada dan memilah mana yang disetujui dan mana yang tidak sehingga dapat selaras dengan semua teori itu. Hal ini dilakukan agar dapat mengambil nilai yang berguna dan dapat diterima. Dari sana diciptkan sitem terpadu. (Lorens Bagus., Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000, Hlm. 181-182,)

[22] Transoxiana adalah nama sebuah wilayah kuno yang terletak di Asia Tengah , antara Sungai Amu Darya dan Sungai Syr Darya. Penggunaan istilah ini harusnya digunakan sampai abad ke 7 tetapi istilah masih digunakan di kalangan sejarawan Barat beberapa abad setelahnya. Nama Transoxiana berasal dari bahasa Latin yang berarti “daerah di sekitar sungai Oxus” , sungai Oxus adalah sebutan kuno dari Sungai Amu Darya. Setelah ditaklukkan Arab pada abad ke 8 , daerah ini dikenal sebagai Ma-Nahr wara’un yang artinya dalam bahasa Arab “yang berada di luar sungai”. Daerah ini sekarang wilayah yang sebagian besar berada di Uzbekistan , tetapi juga sebagian di selatan Kazakhstan , Tajikistan dan Turkmenistan. Kota-kota bersejarah yang penting di Transoxania yaitu Samarkand dan Bukhara.

[23] Diterbitkan oleh Friedrich Dieterici dengan judul Die Philosophie der Araber im IX. Un X. Jahrhundert  n. Chr., Jilid XIV (Leiden, 1890), hal. 66-83.

[24] Fihrist, Op. Cit. hal. 275

[25]C.A. Nallino, “Astronomy”, Encyclopaedia of Islam. Bandingkan dengan Sa’id, Thabaqat, hal. 50-51

[26] Ibn al-Ibri, hal. 237

[27] Ibn abi Ushaybi’ah, Jilid I, hal. 207

[28] Ibn al-Ibri, hal. 236; Qifthi, hal. 78. Kemudian lihat Fihrist, hal. 283; Ibn al-Atsir, jilid IX, hal. 97; Ibn Khallikan, Jilid II, hal. 508-509.

[29] Karya Astronominya, al-Zij al-Shabi’ diedit oleh C.A. Nallino (Roma, 1899).

[30] Philips K. Hitti, Op.Cit,. hal. 472

[31] Khawarizm, yang diadopsi menjadi namanya, adalah kota modern Khiwa di dataran rendah Amu Darya (dulu bernama Oxus). Al-Thabari, Jilid III, hal 1364, menyebutkan al-Majusi, yaitu keturunan Magi.

[32] Kata kimia berasal dari bahasa Arab yaitu al-Kimiya’ yang diambil oleh orang Yunani dari kosakata Mesir kuno yang berarti “hitam”.

[33] Diriwayatkan sebagai seorang sabi’in yang kemudian menganut syi’ah; menurut yang lainnya, ia adalah keturunan anggota suku Arab selatan, al-Azd. Fihrist, hal. 354-355; Qifti, hal. 160-161.

[34] Dari ketiganya, yang paling terkenal adalah Kitab al-Ashnam, Ahmad Zaki, ed. (Kairo, 1914)

[35] De Goeje, ed (Leiden, 1866), bagian pertama diterjemahkan oleh Philips K. Hitti, The Origin of Islamic State (New York, 1916), sementara bagian kedua oleh, F.C. Murgotten (New York, 1924)

[36] W. Ahlwardt, ed., Jilid XI (Greifswald, 1883); S.D.F. Goiten, Jilid V (Yerusalem, 1936); Max Schoessinger, Jilid IV B (Yerusalem, 1938).

[37] Philips K. Hitti., Op.Cit. hal. 487

[38] Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, 30 Jilid (Bulak, 1323-1329)

[39] Harun Nasution, Op.Cit., hlm. 73

[40] Ibn Khaldun, Muqaddimah, hal. 476; Alfred Guillaume, The Traditions of Islam (Oxford, 1924), hal. 68-69

[41] Al-Nawawi, hal. 93-95-96.

[42] Naisabur, yang sekarang ini termasuk wilayah Rusia, dalam sejarah Islam kala itu termasuk dalam sebutan Maa Wara’a an Nahr, artinya daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah. Pada masa Daulah Samanid, Naisabur menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan selama lebih kurang 150 tahun. Seperti halnya Baghdad di abad pertengahan, Naisabur, juga Bukhara (kota kelahiran Imam Bukhari) sebagai salah satu kota ilmu dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Di sana bermukim banyak ulama besar.

[43] Philips K. Hitti, Op.Cit., hal. 497

[44] Ibn Khaldun, Muqaddimah, hal. 372

[45] Konsep Istihsan dalam madzhab Hanafi, konsep Istishlah (prinsip kepentingan public) dalam madzhab Maliki, dan ra’y sering dipandang sebagai sinonim dari Qiyas (analogi).

[46] Mihnah adalah suatu kebijaksanaan yang dilakukan oleh khalifah al-Makmun tentang diberlakukannya pemeriksaan atau lebih tepatnya dikatakan pemaksaan kepada rakyatnya terhadap penerimaan doktrin al-Qur’an itu makhluk. Peristiwa ini dilaksanakan dengan menggunakan kekuatan politik, bahkan dengan kekerasan.

[47] Philip K. Hitti, Op.Cit., hal. 504-505.